Blog

PENYESALAN SELALU DATANG BELAKANGAN

Mintol dulu antar pulang’e” kataku pada salah seorang teman saat memintanya untuk mengantarku pulang.

Saat itu, kami sedang berkumpul di salah satu rumah di daerah Antang, Makassar dan saya berangkat naik angkutan umum bersama tiga teman lainnya. Hari itu, kami seangkatan berkumpul dan berencana untuk membuat Palekko—makanan khas dari Pinrang, SulSel yang terbuat dari bebek dan terkenal dengan rasanya yang sangat pedas.

Matahari mulai tenggelam, satu per satu dari kami mulai berpamitan. Saat itu, sebenarnya saya masih belum mau pulang. “Tapi kalau tidak pulangka sekarang, nanti sama siapa mika pulang?” Tanya saya dalam hati. Akhirnya, saya membujuk salah satu teman namanya Rinal untuk mengantar saya pulang. Karena saat itu saya masih takut untuk naik angkutan umum sendirian. Maklum, waktu itu lagi marak-maraknya berita hipnotis dan penculikan. Dengan membeberkan alasan itu, akhirnya Rinal bersedia mengantar saya sampai di kost.

***

Beberapa minggu telah berlalu, saya dan beberapa teman yang masih setia di kampus memutuskan untuk menghabiskan malam di kampus saja. Selain karena esok hari libur, kami juga merindukan suasana malam ditemani dengan gelas berisikan minuman hitam pekat yang begitu identik dengan rasa pahitnya serta canda tawa dan perbincangan yang tiada habisnya.

Jarum jam telah menunjuk di angka 10. Saya begitu ingin buang air kecil. Segera saya menuju WC yang jaraknya tidak jauh dari himpunan. Namun saat sampai di sana, tempat penampungan air tampak kering dan air juga tidak mengalir.  Dengan berlari kecil saya kembali ke himpunan dan meminta tolong Winda—salah satu teman yang ada di himpunan—untuk mengantarkan saya ke masjid kampus Mendengar saya meminta tolong, segera Winda bangkit dari duduknya dan mengantarkan saya menggunakan sepeda motor karena jaraknya yang cukup jauh. Hal itu berulang untuk ketiga kalinya. Entah karena banyak minum atau karena cuaca yang sedang dingin.

Ededeh Mimi toh biksusnya… Makanya belajarko naik motor supaya bisako pergi sendiri”. Ucap winda yang merasa susah karena harus mengantar saya jika ingin buanng air kecil.

***

Saya memang tidak pandai mengendarai sepeda motor. Bahkan sampai tulisan ini saya buat, berjalan-jalan sendiri mengendarai sepeda motor masih menjadi impian saya. Mau kemana, jam berapa pun saya tidak akan pusing, itu jika saya pandai.

“Sudah besar, kenapa tidak tau bawa motor?”

Jadi, ceritanya begini. Dulu saya pernah belajar mengendarai motor sekali. Namun, saat itu saya memutar gas terlalu dalam hingga motor itu lompat dan membuat saya hampir terjatuh di selokan depan rumah. Untung saja, Ka Warno—ipar yang mengajari saya—dengan cepat menarik bagian belakang motor. Setelah hari itu, saya tidak lagi ingin belajar.

“Susahki memang belajar bawa motor dek. Karena baruki juga mau belajar keseimbangan”, Kata Ka Warno.

Waktu itu, saya pikir belajar mengendarai motor itu mudah. Tinggal duduk dan memutar gas, jika ingin berhenti tinggan menekan rem saja. Sayangnya, hal itu tak semudah yang saya pikirkan.

Kata mereka—beberapa keluarga—saya akan kesulitan saat belajar, karena saya juga tak pandai mengendarai sepeda.

Singkat cerita, dulu saya merengek untuk dibelikan sepeda dan akhirnya mama menyetujuinya. Setelah mama sampai di toko sepeda, ternyata di depan toko ada seorang anak yang terjatuh dari sepeda dan luutnya berdarah. Dia terjatuh karena terserempet motor. Karena alasan itu, akhirnya mama pulang tanpa membawa sepeda.

“Trus kalau mau kemana-mana naik apa?, Kan tidak tau bawa motor”?

Sejak SMP hingga lulus SMA kemana-mana saya pasti di antar-jemput sama bapak. Maka dari itu, saya tidak terlalu terganggu dengan itu. Bagi saya, belajar mengendarai motor bukanlah suatu hal yang penting mendesak untuk saya kerjakan. Toh, jika saya mau kemana-mana ada bapak yang siap mengantar dan menjemput saya. Jika bapak sakit atau keluar kota, aka nada teman yang siap menggantikannya.

Tapi, setelah saya kuliah dan  mulai ditinggalkan teman-teman karena sarjana, saya mulai paham dan menyesal karena tidak bersungguh-sungguh mempelajarinya kemarin. Kini, kadang saya tidak bisa menghadiri acara karena tidak ada yang menemani, mau kemana-mana harus cari teman dulu.

Memang benar kata pepatah, “PENYESALAN SELALU DATANG BELAKANGAN”.

#15HariMenulis

Advertisements

Belajar tak Hanya di Sekolah

“Jangan sering-sering keluar rumah! Liat itu Iin, tidak pernah diliat keluar selain kalau mau pergi sekolah”, Kata mama saat aku meminta izin untuk keluar di hari keempat.

Saat itu, selama tiga hari berturut-turut saya selalu meminta izin untuk keluar rumah dan mengerjakan tugas di rumah teman. Tepat di hari keempat, mama menasihatiku dan mulai membandingkanku dengan tetangga yang bernama Iin. “Ya.. iyya, jelas beda ma. Saya dan Iin kan beda sekolah. Jadi beda kesibukan juga”, kataku dalam hati. Continue reading “Belajar tak Hanya di Sekolah”

Katakan TIDAK, bagi mereka yang memandang kami sebelah mata

Nda lama mi jadi mahasiswa ki… Bisa mi ke kampus tanpa pakai seragam” tutur Nindi, salah satu siswa SMA 4 Watampone.

         Hal ini mengingatkan saya saat lulus dulu. Pemikiran tentang tidak enaknya menggunakan seragam setiap hari. Bagi saya seragam adalah penyiksaan yang tidak dipahami oleh mereka yang membuat aturan. Belum lagi di sekolah saya, hanya menggunakan seragam standar (baca; putih dan abu-abu). “Tidak seperti yang ada di televisi”, tutur saya dalam hati.

               Namun, setelah menyandang gelar mahasiswa dengan segala rutinitas yang ada. Saya malah merindukan menggunakan seragam. Kenapa? karena setiap kali saat ingin ke kampus, saya akan menghabiskan waktu sekitar sejam hanya duduk memandangi isi lemari.

      Eh… tunggu dulu. Sebelum kebingungan tentang pakaian ini terjadi, ada kebingungan yang lebih menyiksa. “Mau lanjut dengan jurusan apa?” pertanyaan yang tidak hanya hadir dari dalam diri dan juga dari orang-orang sekitar.

***

            Saat bersekolah dulu selain buku dan alat tulis, kalkulator adalah benda yang tidak boleh terlupakan untuk saya bawa. Alat ini begitu membantu saat menyelesaikan pembukuan seperti Neraca Lajur, Buku Besar dan Buku Penyesuaian.

            Fakultas Ekonomi (FE) merupakan fakultas yang sangat berhubungan dengan jurusan saya di sekolah dulu. Belum lagi saat itu, saya begitu menginginkan menjadi seorang pegawai yang bergelut di dunia perbankkan. Namun, hal itu tidak berjalan sesuai rencana. Sebab, saya tidak mampu melewati tes Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN).

               Namun, hal itu tidak membuat saya putus asa. Sebab selain jalur SNMPTN, ada juga Jalur Non Subsidi (JNS) dan jalur Prestasi, Olahraga, Seni dan Keterampilan (POSK). Jadi, saya kembali mencoba dengan jalur yang lain yaitu POSK. Jalur ini memiliki persyaratan yaitu melampirkan sertifikat prestasi yag dimiliki. Tapi kekurangan dari jalur ini, adalah kita hanya bisa memilih satu jurusan saja. Berbeda dengan SNMPTN yang menyediakan tiga pilihan jurusan.

           “Mi, di Sastra meko masuk, Ambil mi jurusan Sastra Indonesia. Sedikit peminatnya, jadi tidak terlalu banyak saingannya” kata salah satu keluarga saat memberikan saran.

            Dengan begitu bayak pertimbangan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti saran dari keluarga. Alhamdulillah saat pengumuman keluar, nama saya tercatat dalam daftar nama-nama yang lulus. Waktu itu, saya sangat bersyukur karena mampu menyandang gelar mahasiswa meski jurusan yang saya ambil bukanlah jurusan yang saya impikan. “Minimal saya tidak menganggur”, kata saya dalam hati waktu itu.

            Di Proses Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) tingkat universitas, saat semua mahasiswa berkumpul di salah satu aula terbesar yang dikenal dengan nama Baruga A.P Pettarani. Saat itu saya bertemu dengan beberapa teman semasa berada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dulu.

Vika       : Eh, Riri… (dengan nada yang sedikit berteriak karena ruangan yang sesak dipenuhi mahasiswa), fakultas apako?”

Riri         : Fakultas Ekonomi. Kau iyya?

Vika       : Saya di Fakultas Teknik. Kau iyya Mi, dimanako?

Mimi       : Di Sastra ka.(dengan nada yang rendah).

Dengan segera Vika dan Riri pun tertawa mendengar jawaban saya.

Riri         : Ih, kenapa bisako ta’lempar di sana? Mauko jadi apa nanti?

Saya hanya membalas pertanyaan itu dengan melempar senyum saja.

         Setelah itu, saya mulai berpikir bahwa ini hanyalah sementara. Di tahun berikutnya, saya akan kembali mendaftar di Fakultas Ekonomi. Ternyata, bukan hanya saya yang berpikiran seperti itu. Saat bertemu dengan teman-teman seperjuangan di Fakultas Sastra, hal itu menjadi perbincangan kita saat berkumpul.

“Apa itu nanti dipelajari di? Bahasa Indonesia ji kapang saja?” celetuk salah seorang teman.

Biarmi yang penting tidak belajar Matematika ki” ucap yang lain.

           Memang benar, setelah menjalani perkuliahan di Fakultas Sastra kami sama sekali tidak pernah bertemu dengan mata kuliah yang menggunakan rumus perhitungan untuk menjawab soal. Tetapi, kami dipertemukan dengan setumpuk buku dengan berbagai kisah yang mampu membuat pikiran dan hati seolah terbawa ke masa dimana buku itu dituliskan. Membaca berbagai kisah dalam karya sastra, membuat kita mampu merefleksikan banyak hal, seperti lingkungan, stuktur dan keadaan sosial pada masyarakat yang berbeda zaman.

         Waktu itu, roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer merupakan buku wajib yang direkomendasikan oleh banyak senior untuk dituntaskan. Roman ini menceritakan tetang seorang pribumi yang menyukai seorang gadis keturunan Belanda. Selain itu, roman ini juga bercerita tentang pertentangan kelas dan derajat, yang mana pribumi menempati urutan terakhir setelah kaum kulit putih, saudagar dari Arab dan priyayi.

          Hal ini mulai saya pahami, setelah saya mengkuti perkuliahan Sosiologi Sastra. Mata kuliah ini mengajarkan tentang cara melihat kodisi sosial yang ada dalam karya sastra dan hubungannnya dengan kondisi sosial pada keseharian. Lebih spesifik lagi, Sosiologi Marxis akan membantu untuk melihat pertentangan kelas, golongan atau kelompok. Sebab Marx mengidentifikasi struktur sosial masyarakat menjadi dua kelas, yaitu kelas atas dan kelas bawah yang faktor utamanya didasarkan pada penguasaan alat-alat produksi pada zamannya. Kelas atas adalah kelas yang memiliki sarana produksi, sedangkan kelas bawah adalah mereka (kelas) yang tidak memiliki alat-alat produksi. Relasi kelas ini menciptakan kelas dominan dengan subordinat, majikan dengan budak, tuan tanah dengan pelayan, dan borjuis dengan proletar.

         Pada mata kuliah yang berbeda yaitu Psikologi Sastra, kita akan akan diajarkan untuk mengenal dan memahami berbagai karakter manusia. Berbagai macam karakter menuntut kita untuk memperlakukan mereka secara berbeda pula. Pada dunia nyata, tentu kita membutuhkan waktu yang lama serta kondisi lingkungan yang berbeda-beda untuk bertemu dengan 1001 karakter manusia.

        Namun, dengan membaca berbagai karya sastra hal itu tidaklah menjadi sulit. Sebab, di setiap karya kita akan menemukan berbagai macam karakter. Misalnya dalam berbagai kasus kenakalan remaja. Menggunakan Teori Psikologi yang diperkenalkan oleh Sigmun Freud, membuat kita memahami bahwa segala tindakan dipengaruhi oleh alam bawah sadar, sebagai salah satu aspek kepribadian manusia. Freud menyebutkan bahwa kepribadian manusia memiliki tiga struktur penting, yaitu id, ego, dan superego. (Minderop, 2013:15)

      Id berisi segala sesuatu yang secara psikologis telah ada sejak manusia lahir, termasuk insting-insting. Id merupakan tempat berkumpulnya energi psikis dan menyediakan seluruh daya untuk menggerakkan kedua struktur kepribadian lainnya. Ego adalah struktur kepribadian yang berkaitan dengan realita dan membuat keputusan-keputusan rasional. Sedangkan superego adalah memutuskan sesuatu itu benar atau salah. Sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui masyarakat. Masing-masing tahap memiliki tugas perkembangan yang khas, dan mengharuskan individu menghadapi dan menyelesaikan krisis.  Untuk setiap krisis, selalu ada pemecahan yang positif dan negatif, pemecahan yang positif akan menghasilkan kesehatan jiwa, sedangkan pemecahan yang negatif akan membentuk penyesuaian yang buruk. Olehnya itu, mengenal latar belakang orang lain sangat membantu kita untuk memahami cara berkomunikasi dengan baik.

***

            Trachea (Tenggorokan), Larynx (Pangkal Tenggorokan), Pharynx (Rongga Anak Tekak), Dorsum (Punggung Lidah), Lamina (Daun Lidah), Apex (Ujung Lidah), Uvula (Anak Tekak), Denta (Gigi atas dan bawah), Labia (Bibir atas dan bawah), Mount Cavity (Rongga Mulut), Nasal cavity (Rongga Hidung).

            Kamu anak kedokteran gigi? Jika iya, istilah-istilah di atas pastilah sangat dekat dengan kalian.

            Kok bisa anak sastra tahu istilah-istilah yang digunakan anak kedokteran gigi?

            Jika kedokteran gigi menggunakan istilah itu untuk menjelaskan bagian-bagian mulut dan berbagai penyakit yang sering terjadi di rongga mulut. Kami, anak sastra menggunakan istilah itu untuk menjelaskan proses artikulasi yang menghasilkan berbagai macam bunyi. Misalnya saja pada konsonan [p], [b], [m] dan [w] yang sering disebut konsonan bilabial, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan kedua belah bibir (Labia) yang bersama-sama bertindak sebagai artikulator dan titik artikulasi. Begitu pula untuk lonsonan labiodental, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas (Denta) sebagai titik artikulasi dan bibir bawah (Labia) sebagai artikulator : [f] dan [v]. (Rokhman, 2016:24)

            Selain belajar tentang proses terjadinya bunyi, kami juga belajar pentingnya memilih dan menggunakan diksi (kata) yang tepat. Sebab tidak dapat dipungkiri, penggunaan diksi yang kurang tepat akan mengaburkan makna dari apa yang ingin disampaikan. Bahkan pada titik tertentu, penggunaan diksi mampu membuat sesorang merasa terpuruk dan terawasi. Efek Panapticon; istilah yang diperkenalkan oleh Faucolt untuk menjelaskan hal tersebut.

            Efek utama dari mekanisme panapticon adalah menimbulkan kesadaran diawasi dan dilihat secara terus-menerus pada diri seseorang. Kesadaran ini menimbulkan efek kepatuhan bahkan ketakutan. Mekanisme ini memungkinkan penguasa mengendalikan rakyatnya secara total, baik melalui mitos, doktrin maupun infrastruktur yang lebih modern seperti wacan. (Rokhman, 2016: 18)

            Mekanisme panapticon dirancang pertama kali oleh Jeremy Bantham pada abad ke-18 untuk merekayasa kesadaran tahanan dalam penjara. Ia menciptakan menara pengawas di tengah bangunan penjara yang melingkar. Keberadaan menara tersebut dengan sendirinya menimbulkan ilusi pada para tahanan sehingga mereka merasa diawasi.

            Hal ini ternyata juga digunakan dalam penggunaan bahasa. Di rumah misalnya, msaih dapat ditemukan orang tua yang menyebut ankanya sebagai “anak manja” karena kerap merengek meminta sesuatu atau “anak malas” karena jarang merapikan kamar. Meski hal itu berlangsung di wilayah domestik, tetapi sebutan itu seperti “penajara bahasa” yang membuat anka menjadi minder, sakit hati, atau putus asa.

***

            Saat saya menjalani salah satu Tri Darma perguruan tinggi yaitu pengabdian pada masyarakat. Saya kembali merasakan kesedihan seperti di awal kelulusan tadi.

            “Itu Kakak Mimi suruh bantu buatkan puisi, kah dia tosseng anak sastra” kata Pak Bur, yang merupakan Sekertaris Desa (Sekdes) tempat saya menjalanmi masa Kuliah Kerja Nyata (KKN).          Hal itu dia sampikan kepada Abdi-anaknya saat Abdi meminta tolong dibuatkan puisi untuk mengikuti lomba baca puisi di sekolahnya.

         Dia berpikir, bahwa kami di sastra adalah orang-orang yang handal dalam menyusun kata-kata puitis. Memang kami belajar tentang puisi, tapi yang kami pelajari adalah cara menelaah puisi, bukan cara menulis puisi. Misalnya, pada frasa “mawar berduri” dalam sebuah puisi bisa diartikan bunga mawar yang sesungguhnya, perumpamaan dari wanita yang cantik tapi hatinya jahat, atau metafora untuk dosa yang tidak boleh dilakukan manusia.

            Berbeda pandangan atau penafsiran dalam sastra adalah hal yang biasa. Hal ini menjadikan kami pribadi yang mampu menerima berbagai perbedaan. Selain itu predikat “kreatif” pun mulai melekat. Hal ini dikarenakan kami keseringan membaca novel atau cerpen sehingga kami memiliki daya imajinasi yang tinggi.

             Pandangan saya tentang Fakultas Sastra pun mulai berubah. Bahkan, kesyukuran saya lulus di fakultas ini yang awalnya hanya karena tidak mau dibilang menganggur berubah menjadi kesyukuran yang begitu saya nikmati. Lagi-lagi saya bersyukur atas pencapaian yang saya dapatkan, termasuk atas lulusnya saya di fakultas sejuta ilmu ini.

Jadi, masihkah kalian akan memandang kami sebelah mata?

 

Sumber Pustaka:

Kutha Ratna, Nyoman. 2009. Paradigma Sosiologi Sastra. Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Minderop, Alebrtine. 2013. Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Pustaka Obor:Jakarta

Rokhman, Fathur. 2016. Politik Bahasa Penguasa. Penerbit Buku Kompas: Jakarta

Andi Zulkarnain; Pendidikan yang Merata

Menggambarkan Andi Zulkarnain, seperti memilih satu warna dalam pencampuran berbagai warna. Blogger, penggiat komunitas, penulis, aktivis, hingga pengamat politik menjadi sederet julukan bagi alumnus Fakultas Ilmu Politik, Pasca Sarjana Universitas Nasional Jakarta ini.

Jarum jam telah menunjuk pada angka 11.00 malam, Senin (27/3/2017). Namun, Zul masih sibuk berdiskusi dengan sejumlah mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam satu organ yang bernama Perhimpunan Mahasiswa Bone Univeritas Hasanuddin LATENRITATTA (PMB UH LATENRITATTA). Ditemani dengan papan tulis dan LCD, dengan sabar ia menjawab semua pertanyaan dari peserta diskusi yang haus akan pengetahuan. Continue reading “Andi Zulkarnain; Pendidikan yang Merata”

Perjuangan dipenghujung Perkuliahan

Mendapat gelar sebagai mahasiswa merupakan suatu prestasi, yang bagi sebagian orang masih menjadi impian. Bahkan bagi sebagian yang lain adalah buang-buang waktu dan uang.

Alhamdulillah, karena saya terlahir dalam keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Bayangkan saja jika itu tidak terjadi, mungkin saja saya sudah dinikahkan dengan salah satu keluarga. Seperti yang dialami beberapa teman semasa SMA. Setelah lulus, saat saya mulai sibuk mengikuti sederet tes untuk melanjutkan kuliah, mereka malah sibuk dengan sederet ritual menuju proses akad nikah. Continue reading “Perjuangan dipenghujung Perkuliahan”

GENANGAN KENANGAN

Rumah merupakan tempat pulang terbaik bagi saya setelah melewati setumpuk aktivitas. Kehangatan saat berkumpul bersama keluarga, itulah yang paling berkesan. Memilih untuk meninggalkan rumah, merupakan hal yang cukup sulit buat saya. Sebab, hal itu akan membuat saya jauh dari mereka (baca; orang tua). Gelisah pun menghampiri, memilih tetap tinggal atau pergi. Saat itu, saya banyak berdiskusi dengan kakak-Saudara satu-satunya yang saya miliki. Kota Daeng, kota yang terkenal dengan makanan khasnya yaitu “Coto Makassar” adalah tempat yang kemudian saya pilih untuk melanjutkan jenjang pendidikan saya. Kampus yang dijuluki dengan “Kampus Merah” pun menjadi pilihan saya untuk tempat menyandang gelas mahasiswa hingga sarjana nanti. Continue reading “GENANGAN KENANGAN”

Koridor dengan Segala Aktivitasnya

Lokasinya yang berada sedikit rendah dibandingkan gazebo membuat koridor ini tak terlihat jika kita berada di parkiran. Jadi, untuk sampai ke koridor kita harus berjalan melewati gazebo dan menuruni enam anak tangga, hingga tampak seperti ruangan bawah tanah. Sebenarnya, tempat ini adalah lantai dasar di salah satu gedung yang ada di Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Di kedua ujung koridor ini terdapat pintu besi yang membuatnya seperti sel penjara. Namun, bedanya tidak dijaga oleh petugas dan tidak mengharuskan kita melapor dulu. Selain itu, kondisi pintu yang tak pernah tertutup membuat kita bisa kelur-masuk kapan saja. Seakan memberi kesan “Selamat Datang” pada semua orang Continue reading “Koridor dengan Segala Aktivitasnya”

Kalau ada bikin sakit, Kalau tidak ada bikin pusing

Benda kesayangan? Apakah benda kesayangan itu selalu pemberian dari seorang kekasih? Ah! kurasa tidak juga, itu tergantung pribadi yang menyikapinya. Jika harus menceritakan tentang benda kesayangan (ku) itu berupa apa sih? Mungkin banyak yang akan menceritakan handphone, laptop, buku atau baju pemberian dari sahabat atau kekasih, tapi tidak bagiku. Oh ya, kalau kamu apa benda kesayanganmu? Di sini aku akan membagi sedikit cerita tentang benda kesayangan saya. Penasaran? Tunggu dulu hehehe Continue reading “Kalau ada bikin sakit, Kalau tidak ada bikin pusing”

I N D O N E S I A

Apa kabar tempat kelahiranku? Apa kabar negara dengan kepulauan terbanyak dan kekayaan alam berlimpah? Apa kabar bangsa besar yang ditakuti dan disegani banyak negara kaya di luar sana?

Menjadi keturunan beberapa pejuang negeri ini justru membuat saya merasa memiliki beban sangat berat, Tuanku. Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan di tengah rongrongan dan gerogotan yang demikian menggila. Invansi negara lain saat ini bukan dalam bentuk serangan fisik dan senjata tepat di depan wajah. Dalam pikiranku, ini cukup mengerikan. Kita hidup di negara yang (seolah) sudah merdeka. Nyatanya bagi saya belum.

Indonesia ini bangsa besar, Tuanku. Kopi terbaik berasal dari sini. Rempah terbaik ternyata bersembunyi di pulau yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hasil bumi lainnya, hanya Indonesia yang punya. Tak heran, menjadi incaran para penguasa yang haus puja puji untuk dijual dengan harga sangat murah pada sesiapa saja yang mau. Mau? Tentu saja semua mau! Tetapi pemenangnya selalu negara yang memberi pilihan tongkat atau wortel. Continue reading “I N D O N E S I A”

Lingkungan

Kuucapkan salam rindu dan cintaku padamu. Padamu yang selalu menjadi dongeng pengantar tidur.Hijaunya dirimu, segarnya udaramu, dan begitu riangnya binatang yang menjadi tokoh dalam cerita.Aku membayangkan kicauan burung di pagi hari, saat merah-merah diufuk timur mulai nampak. Aku membayangkan lincahnya tupai saat melompat ke pohon untuk menghindari Si Monyet. Aku juga membayangkan ikan-ikan yang menari di air yang jernih. Itulah kisah kedamaian dan ketentraman yang sering kudengar dulu.
Di sana tak ada kecurangan, tidak ada kemiskinan, tidak ada pemimpin namun mereka mampu hidup rukun dan damai. Continue reading “Lingkungan”