PENYESALAN SELALU DATANG BELAKANGAN

Mintol dulu antar pulang’e” kataku pada salah seorang teman saat memintanya untuk mengantarku pulang.

Saat itu, kami sedang berkumpul di salah satu rumah di daerah Antang, Makassar dan saya berangkat naik angkutan umum bersama tiga teman lainnya. Hari itu, kami seangkatan berkumpul dan berencana untuk membuat Palekko—makanan khas dari Pinrang, SulSel yang terbuat dari bebek dan terkenal dengan rasanya yang sangat pedas.

Matahari mulai tenggelam, satu per satu dari kami mulai berpamitan. Saat itu, sebenarnya saya masih belum mau pulang. “Tapi kalau tidak pulangka sekarang, nanti sama siapa mika pulang?” Tanya saya dalam hati. Akhirnya, saya membujuk salah satu teman namanya Rinal untuk mengantar saya pulang. Karena saat itu saya masih takut untuk naik angkutan umum sendirian. Maklum, waktu itu lagi marak-maraknya berita hipnotis dan penculikan. Dengan membeberkan alasan itu, akhirnya Rinal bersedia mengantar saya sampai di kost.

***

Beberapa minggu telah berlalu, saya dan beberapa teman yang masih setia di kampus memutuskan untuk menghabiskan malam di kampus saja. Selain karena esok hari libur, kami juga merindukan suasana malam ditemani dengan gelas berisikan minuman hitam pekat yang begitu identik dengan rasa pahitnya serta canda tawa dan perbincangan yang tiada habisnya.

Jarum jam telah menunjuk di angka 10. Saya begitu ingin buang air kecil. Segera saya menuju WC yang jaraknya tidak jauh dari himpunan. Namun saat sampai di sana, tempat penampungan air tampak kering dan air juga tidak mengalir.  Dengan berlari kecil saya kembali ke himpunan dan meminta tolong Winda—salah satu teman yang ada di himpunan—untuk mengantarkan saya ke masjid kampus Mendengar saya meminta tolong, segera Winda bangkit dari duduknya dan mengantarkan saya menggunakan sepeda motor karena jaraknya yang cukup jauh. Hal itu berulang untuk ketiga kalinya. Entah karena banyak minum atau karena cuaca yang sedang dingin.

Ededeh Mimi toh biksusnya… Makanya belajarko naik motor supaya bisako pergi sendiri”. Ucap winda yang merasa susah karena harus mengantar saya jika ingin buanng air kecil.

***

Saya memang tidak pandai mengendarai sepeda motor. Bahkan sampai tulisan ini saya buat, berjalan-jalan sendiri mengendarai sepeda motor masih menjadi impian saya. Mau kemana, jam berapa pun saya tidak akan pusing, itu jika saya pandai.

“Sudah besar, kenapa tidak tau bawa motor?”

Jadi, ceritanya begini. Dulu saya pernah belajar mengendarai motor sekali. Namun, saat itu saya memutar gas terlalu dalam hingga motor itu lompat dan membuat saya hampir terjatuh di selokan depan rumah. Untung saja, Ka Warno—ipar yang mengajari saya—dengan cepat menarik bagian belakang motor. Setelah hari itu, saya tidak lagi ingin belajar.

“Susahki memang belajar bawa motor dek. Karena baruki juga mau belajar keseimbangan”, Kata Ka Warno.

Waktu itu, saya pikir belajar mengendarai motor itu mudah. Tinggal duduk dan memutar gas, jika ingin berhenti tinggan menekan rem saja. Sayangnya, hal itu tak semudah yang saya pikirkan.

Kata mereka—beberapa keluarga—saya akan kesulitan saat belajar, karena saya juga tak pandai mengendarai sepeda.

Singkat cerita, dulu saya merengek untuk dibelikan sepeda dan akhirnya mama menyetujuinya. Setelah mama sampai di toko sepeda, ternyata di depan toko ada seorang anak yang terjatuh dari sepeda dan luutnya berdarah. Dia terjatuh karena terserempet motor. Karena alasan itu, akhirnya mama pulang tanpa membawa sepeda.

“Trus kalau mau kemana-mana naik apa?, Kan tidak tau bawa motor”?

Sejak SMP hingga lulus SMA kemana-mana saya pasti di antar-jemput sama bapak. Maka dari itu, saya tidak terlalu terganggu dengan itu. Bagi saya, belajar mengendarai motor bukanlah suatu hal yang penting mendesak untuk saya kerjakan. Toh, jika saya mau kemana-mana ada bapak yang siap mengantar dan menjemput saya. Jika bapak sakit atau keluar kota, aka nada teman yang siap menggantikannya.

Tapi, setelah saya kuliah dan  mulai ditinggalkan teman-teman karena sarjana, saya mulai paham dan menyesal karena tidak bersungguh-sungguh mempelajarinya kemarin. Kini, kadang saya tidak bisa menghadiri acara karena tidak ada yang menemani, mau kemana-mana harus cari teman dulu.

Memang benar kata pepatah, “PENYESALAN SELALU DATANG BELAKANGAN”.

#15HariMenulis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s