Andi Zulkarnain; Pendidikan yang Merata

Menggambarkan Andi Zulkarnain, seperti memilih satu warna dalam pencampuran berbagai warna. Blogger, penggiat komunitas, penulis, aktivis, hingga pengamat politik menjadi sederet julukan bagi alumnus Fakultas Ilmu Politik, Pasca Sarjana Universitas Nasional Jakarta ini.

Jarum jam telah menunjuk pada angka 11.00 malam, Senin (27/3/2017). Namun, Zul masih sibuk berdiskusi dengan sejumlah mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam satu organ yang bernama Perhimpunan Mahasiswa Bone Univeritas Hasanuddin LATENRITATTA (PMB UH LATENRITATTA). Ditemani dengan papan tulis dan LCD, dengan sabar ia menjawab semua pertanyaan dari peserta diskusi yang haus akan pengetahuan.

Di hari yang berbeda, Koordinatir Dewan Presidium Forum Kampung Bahasa Sulawesi (FKBS) ini lagi-lagi membagi ilmu dan pengalaman pada mereka yang haus akan forum-forum dialektis. Kala itu, ia bercerita tentang “Filsafat Cinta”, yang mana semua tindakan harus berlandaskan akan cinta yang lebih luas yaitu kecintaan pada Sang Pemilik Cinta. “Menebar cinta di setiap tindakan, akan membuahkan cinta dikemudian hari”, ungkap Zul disela-sela diskusi.

Ia selalu mengingatkan dan mengajarkan untuk selalu berbuat baik, bertindak atas dasar cinta dan kepedulian akan generasi lanjut. Sebab menurutnya, untuk memperbaiki suatu bangsa harus dimulai dari generasi muda.

Berlandaskan pada Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 alinea ke empat yang berbunyi “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Oleh sebab itu, Zulkarnain memilih pendidikan menjadi fokusannya untuk membangun suatu bangsa.

Atas dasar inilah kemudian, Zulkarnain mendirikan beberapa komunitas yang berbasis pada bidang pendidikan. Salah satunya pada pendidikan Bahasa Inggris. Ia menyadari bahwa kemampuan berbahasa inggris sangatlah penting, khususnya di era globalisasi.

Berkaca pada pengalamannya yang pernah belajar di Kampung Inggris Pare, Kediri, Ia bersama beberapa teman kemudian memprakarsai pendirian lembaga FKBS. Cita-cita yang ditanamkan bahwa pendidikan itu adalah hak semua warga negara. Olehnya itu, FKBS kemudian menciptakan pendidikan murah, merakyat, berkualitas dan berkarakter. Hingga saat ini, FKBS Makassar sudah berdiri di dua lokasi yaitu di daerah Tamalate dan Tamalanrea.

“Kak Zul sosok yg sangat menginspirasi saya untuk menjadi manusia yg lebih peduli sesama, bangsa dan negara”, ungkap Rina Marliana, salah satu peserta diskusi Filsafat Cinta.

Selain FKBS, Ia juga merupakan pendiri dari Philosophia Institute. Sebuah wadah yang bergerak di bidang perpustakaan yang bernama Rumah Baca Philosophia. Rumah baca ini menjadi alternatif bagi teman-teman yang ingin membaca seharian tanpa diganggu dengan jam istirahat dan jam tutup.

Masih sama dengan FKBS, Rumah Baca Philosophia ini juga menganut paham yang sama. Olehnya itu, rumah baca ini juga dibuat sebagai salah satu wadah untuk teman-teman yang ingin menambah ilmu dengan membaca ataupun berdiskusi.

Sosoknya yang selalu menginspirasi banyak orang, membuatnya begitu dikagumi. Sikapnya yang ramah, menjadikan teman-teman begitu nyaman untuk berdiskusi dan bercerita apapun dengannya. Meskipun sekarang ia menetap di “Ibu Kota”, tidak menjadikannya lupa dengan kampung halaman. Bahkan, selain mendirikan beberapa organ di Makassar-tempatnya mengenal bahwa pendidikan itu haruslah merata dan merakyat-, ia juga mendirikan rumah baca di Bone-tempat kelahirannya. Selain itu, kini ia sedang merintis pembukaan FKBS Cabang Bone.

Pribadinya yang supel, menjadikannya mampu berbaur diberbagai kalangan. Tak pernah sekalipun ia terlihat marah atau mengeluarkan kata-kata kasar.

Bahkan setelah mempersunting Winda Ilyas, tidak menjadikannya lupa akan kegiatan-kegiatan sosial. Bersama istri, ia malah lebih inovatif dalam mencapai cita-citanya. Hingga kini, ia terus membagi ilmunya dengan sukarela tanpa batas waktu.

”Kak Zul selalu memikirkan regenerasi. Makanya, beliau tidak pernah bosan membagi ilmunya.”, ungkap Muhammad Rizky Ridwan, Mahasiswa Fakultas Hukum Unhas yang juga menjadi peserta diskusi di PMB UH LATENRITATTA.

Saat ditanya sampai kapan mau berjuang seperti itu, dengan tersenyum Zulkarnaian berkata, ”Dengan begitu saya merasa hidup kembali. Saya merasa panjang umur.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s