Perjuangan dipenghujung Perkuliahan

Mendapat gelar sebagai mahasiswa merupakan suatu prestasi, yang bagi sebagian orang masih menjadi impian. Bahkan bagi sebagian yang lain adalah buang-buang waktu dan uang.

Alhamdulillah, karena saya terlahir dalam keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Bayangkan saja jika itu tidak terjadi, mungkin saja saya sudah dinikahkan dengan salah satu keluarga. Seperti yang dialami beberapa teman semasa SMA. Setelah lulus, saat saya mulai sibuk mengikuti sederet tes untuk melanjutkan kuliah, mereka malah sibuk dengan sederet ritual menuju proses akad nikah.

September 2011, merupakan awal dari kisah saya sebagai seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang mendapat julukan “Kampus Merah”. Universitas ini berdiri kokoh dengan nama Universitas Hasanuddin. Kampus ini memiliki empat belas fakultas, yang salah satu diantaranya adalah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang menjadi tempat saya menuntut ilmu.

Seperti halnya mahasiswa yang lain, saya menjalani masa perkuliahan dengan normal. Semua mata kuliah saya lalui tepat waktu. Jadwal untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang merupakan salah satu dari Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian pada Masyarakat pun saya jalani tepat waktu.

“Sudah miki KKN toh Nak. Jadi, dekat mi sarjana”. Pandangan orang tua ketika anaknya telah melewati masa KKN.

Beberapa bulan setelah KKN berlalu. Pertanyaan yang dilontarkan pun semakin spesifik. Hampir setiap bulan, pertanyaan tentang ujian, skripsi dan sarjana semakin sering terdengar. Bahkan, pulang kampung dan berkumpul dengar keluarga menjadi momen yang begitu tidak saya nanti dan nikmati. Sebab, semua keluarga mulai mempertanyakan hal sama dengan yang ditanyakan oleh Mama dan Bapak.

Please, bantu aku dengan tidak menanyakan hal itu saat kita bertemu nanti. Pertanyaan itu bagaikan pedang yang mampu mematikan, menusuk dan menancap. #kapansarjana?”. Salah satu status yang saya buat di akun fecebook saat mendekati Hari Raya Idul Fitri.

Hufffttt….. Menghela nafas yang panjang. Itulah yang saya lakukan jika sedang sendiri, sebelum menyapa keluarga dan melempar senyum kepada mereka semua.

***

Memasuki masa-masa yang tidak ada lagi jadwal kuliah, menjadikan saya sedikit terlena dan lupa waktu. Surat Keputusan (SK) untuk dosen pembimbing telah ada di tangan, namun skripsi tak kunjung saya kerjakan.

Satu tahun berlalu, SK itu telah merayakan ulang tahunnya yang pertama. Namun, bimbingan yang saya lakukan baru sekali. Coretan yang diberikan, tak segera saya perbaiki. Alhasil, lembaran-lembaran calon skripsi itu mulai diselimuti butiran debu.

Lebaran tahun kedua pasca KKN, orang tua saya tampak mulai gelisah. Sebab, anak perempuan keduanya ini telah melewati masa perkuliahan selama kurang lebih lima tahun. Lebih lama dibandingkan kakak saya yang hanya menghabiskan waktu selama empat tahun sembilan bulan itu.

Organisasi dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan menjadi sorotan utama bagi orang tua sebagai alasan keterlambatan sarjana. Memang betul, salah satu yang menghambat proses pembimbingan saya adalah jabatan yang saya emban di tingkatan fakultas. Namun, tidak sepenuhnya juga benar, jika karena itu sampai sekarang saya masih belum juga sarjana. Sebab, yang menjadi alasan utama adalah kemalasan saya untuk melanjutkan paragraf-paragraf di lembaran-lembaran calon skripsi itu. Belum lagi pembimbing yang sangat sulit untuk ditemui.

Pernah suatu waktu selama satu minggu, saya hanya duduk di kursi panjang yang berada di sebelah kanan pintu masuk. Kursi ini bersandar di salah satu dinding yang menghadap ke ruangan dosen. Dari kursi ini saya bisa melihat aktiftas dalam rungan dosen yang hanya dibatasi oleh kaca saja. Hingga satu teman menghampiri dan bertanya seakan dia tahu saya sedang menunggu siapa.

Kenapa tidak ditelepon saja?”, .

Seandainya saja, beliau bisa saya hubungi. Mungkin saya tidak akan menunggunya seperti ini”, jawab saya dengan wajah lesuh.

Beliau merupakan dosen yang sangat sulit diajak janjian. Sebab, beliau tidak begitu senang jika ditelepon atau dikirimkan pesan singkat. Beliau lebih suka jika mahasiswa menunggunya, dan langsung bertemu di kantor jurusan.

Rasa bosan mulai berkecamuk. Sebulan hampir saja berlalu. Ke kampus di pagi hari, duduk di kantor jurusan, beranjak ke kantin jika jam istrahat telah tiba, kembali ke kantor jurusan hingga jam kantor usai. Rutinitas itu saya lakukan hanya untuk bertemu dengan beliau. Malas pun kadang menghampiri. Seakan tak mau malam berganti pagi. Sebab, saat mentari menyapa, saat itulah saya harus menghabiskan waktu dengan hanya duduk dan menunggu.

Kadang saat menunggu, saya bertemu dengan beliau. Belum sempat saya berkata apa-apa, beliau langsung mendahului dengan menyebutkan beberapa kesibukannya. Alhasil, saya harus kembali merapatkan punggung di kursi.

Tepat diakhir bulan, perjuangan dan penantian itu pun membuahkan hasil. Beliau menemui saya dan memberikan koreksi atas calon skripsi yang saya buat. Seperti seorang anak yang mendapat permen setelah lelah merengek-rengek pada ibunya, seperti itulah perasaan saya. Setelah sekian lama menanti, akhirnya yang saya tunggu-tunggu datang juga-momen bertemu pembimbing dan melakukan bimbingan. Beberapa coretan pun mulai diberikan. Beberapa judul buku dan jurnal dituliskan untuk menambah referensi saya.

Masa-masa bimbingan memang begitu melelahkan dan membosankan. Apalagi ditambah dengan dosen pembimbing yang memiliki banyak kesibukan. Belum lagi jika beliau adalah tipe dosen yang tidak banyak bicara. Menunggu berjam-jam, bertemu hanya untuk mengembalikan berkas dan berkata “Ada mi itu coretan dan sarannya di dalam. Baca dan perhatikan, mana yang harus dihilangkan dan ditambah!”. Kesal, jengkel, gondok itu sudah pasti. Tapi, mau diapa lagi… untuk mencapai gelar sarjana proses ini harus dilalui. Kedepannya proses inilah yang mungkin akan membuat tertawa dan senyum-senyum sendiri saat melihat skripsi yang telah rampung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s