GENANGAN KENANGAN

Rumah merupakan tempat pulang terbaik bagi saya setelah melewati setumpuk aktivitas. Kehangatan saat berkumpul bersama keluarga, itulah yang paling berkesan. Memilih untuk meninggalkan rumah, merupakan hal yang cukup sulit buat saya. Sebab, hal itu akan membuat saya jauh dari mereka (baca; orang tua). Gelisah pun menghampiri, memilih tetap tinggal atau pergi. Saat itu, saya banyak berdiskusi dengan kakak-Saudara satu-satunya yang saya miliki. Kota Daeng, kota yang terkenal dengan makanan khasnya yaitu “Coto Makassar” adalah tempat yang kemudian saya pilih untuk melanjutkan jenjang pendidikan saya. Kampus yang dijuluki dengan “Kampus Merah” pun menjadi pilihan saya untuk tempat menyandang gelas mahasiswa hingga sarjana nanti.

Saya adalah salah satu mahasiswa yang menempuh pendidikan di fakultas yang dulunya bernama Fakultas Filsafat, yang kemudian berubah menjadi Fakultas Sastra. Dan akhirnya di pertengahan tahun 2016 kembali mengalami perubahan menjadi Fakultas Ilmu Budaya.

Sebagai mahasiswa tak lengkap rasanya jika hanya bergelut dalam dunia akademisi saja-menurut saya. Alhasil, saya memilih untuk menggunakan kesempatan yang katanya hanya datang sekali seumur hidup ini dengan bergabung dan aktif di dunia organisasi. Namun, untuk menjadi anggota dalam suatu organisasi saya harus melewati berbagai proses pengaderan yang cukup menyita waktu. 3×1 layaknya resep dokter, mengikuti pengumpulan pun seperti itu. Mulai dari sebelum kuliah pagi, pengumpulan disela-sela kuliah, bahkan setelah kuliah berakhir pun masih juga harus pengumpulan sebelum akhirnya kembali ke rumah masing-masing.

Berbicara tentang pengumpulan, ini merupakan kegiatan yang banyak dihindari oleh mahasiswa. Sebab, saat pengumpulan kita harus bertemu dengan banyak senior. Saat itulah, saat dimana semua kebahagiaan hilang. Apalagi saat mereka (baca;senior) melantunkan lagu yang liriknya seperti ini “Ajal telah tiba, Ajal telah tiba… Hore… Hore…”, detak jantung berubag kencang. Pucat pasih menghiasi wajah. Tak ada senyum yang mampu melekat di wajah. Kami (baca;mahasiswa baru) hanya mampu menunduk, sambil berpegangan tangan yang erat seakan tak mau terpisahkan.

Masa-masa menjadi mahasiswa baru merupakan masa yang semua kesalahan ada pada kami. Tak pernah rasanya, kami melakukan hal yang benar di mata senior. Ada saja selalu alasan yang mengharuskan mereka marah. Alhasil, kami harus mendapat hukuman atas itu.

“Masuk ko sekarang semua di himpunan” kata salah satu senior.

Kami pun segera bergegas menuju himpunan. Berjalan beriringan, dengan tangan masih tetap saling berpegangan. Untuk sampai ke himpunan, kami harus menyusuri sebagian dari lorong lantai dasar gedung FIS V. Lorong ini diberi nama koridor, yang mempertemukan lima sekretarian Himpunan Mahasiawa Jurusan (HMJ) yaitu PERISAI (Perhimpunan Mahasiswa Sasatra Inggris), IMSAD (Ikatan Mahasiswa Sastra Daerah), IMSI (Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia), KAISAR (Keluarga Mahasiswa Arkeologi), HIMASPA (Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang).

Di kedua ujung koridor ini terdapat pintu besi yang membuatnya seperti sel penjara. Namun, bedanya tidak dijaga oleh petugas dan tidak mengharuskan kita melapor dulu. Selain itu, kondisi pintu yang tak pernah tertutup membuat kita bisa kelur-masuk kapan saja. Seakan memberi kesan “Selamat Datang” pada semua orang. Himpunan yang akan kami tuju adalah sekretariat IMSI yang merupakan ruangan kedua sebelah kiri setelah melewati pintu besi. Ruangan ini tepat berada di samping sekretariat PERISAI.

Semakin ke dalam, mata akan dimanjakan dengan berbagai informasi yang terpajang dalam papan persegi, seperti poster kegiatan (seminar, workshop, lomba, dll) serta selebaran terkait isu-isu kampus. Jika lelah, kita bisa menyandarkan punggung di bangku panjang yang terdapat di hampir semua sekretariat.

Sepanjang koridor dicat dengan warna kuning, yang merupakan identitas fakultas. Meskipun seperti itu, tidak begitu membantu untuk memantulkan cahaya agar koridor ini menjadi terang. Sehingga, meski gelap telah berganti terang tidak menjadikan tugas dari lampu di koridor ini selesai. Lampu ini akan terus bertugas seperti halnya UGD yang selalu terbuka 24 jam.

Kondisi koridor yang tidak begitu terang, ditambah lagi disesaki dengan wajah-wajah mahasiswa gondrong yang matanya selalu saja merah. Tanpa senyum yang melekat. Membuat kami begitu takut untuk memasuki lorong ini. Sehingga, kami akan melewati koridor ini jika kami disuruh untuk memasuki himpunan oleh senior. Bahkan, untuk melintas di depan koridor pun kami akan berfikir seribu kali. Jika masih ada jalan lain, kami akan memilih jalan itu dibanding harus melintasi koridor.

Saya ingat waktu itu, jika ingin ke Mushollah saya lebih memilih untuk mengelilingi gedung FIB dibanding harus menyusuri koridor. Meski saya harus berjalan cukup jauh, tapi itu tidak masalah. Lebih baik seperti itu dibanding saya harus bertemu dengan banyak senior di koridor.

Ini terjadi, karena pengalaman pertama saat memasuki koridor adalah pengalaman yang buruk. Kami disuruh untuk memasuki himpunan, karena kami akan mendapat banyak “kata mutiara”. Selain itu, penghuni koridor-sapaan mahasiswa yang tinggal di koridor- yang begitu sangar. Belum lagi, jika ada senior yang rese’, yang menyuruh salah satu dari kami untuk menampilkan yel-yel yang kami punya.

***

Setelah 2 semester berlalu, akhirnya kami pun menyandang gelar anggota penuh di IMSI. Itu membuat kami begitu senang. Sebab, kami akan berhenti mengikuti pengumpulan, tidak lagi menggunakan atribut, bebas dari panggilan “Maba”. Saat ini, memasuki koridor tidak lagi menyeramkan. Bahkan koridor dan himpunan menjadi rumah kedua bagi kami.

 

Saat matahari mulai condong ke barat. Setelah semua jadwal kuliah telah usia. Itulah saat dimana koridor ini akan terlihat penuh layaknya pasar. Banyak manusia mulai berlalu lalang, bangku-bangku panjang yang ada di depan himpunan pun mulai dipenuhi, bahkan kadang harus menampung beban lebih. Kalau di jalanan yang padat, kita akan mendengar kebisingan dari mesin kendaraan dan suara klakson. Berbeda halnya dengan di koriodor. Jika kondisi mulai padat, kita akan mendengarkan banyak informasi yang keluar dari mulut para makhluk-makhluk Tuhan yang paling cantik.

“A             : Dari mana ko?

B               : Dari rumah ja. Terlambatka bangun… Begadangka tadi malam gara-gara saya tunggui Trio menyanyi…

A               : Ooohhh.. suka ko juga sama Trio. Saya juga weh… Manisnya kaue… Ada itu gayanya, kalau na kasi begini rambutnya (sembari memperagakan gaya Trio saat memperbaiki rambutnya)”

Di sisi yang berbeda ada juga yang curhat tentang rasa jengkelnya pada salah satu dosen.

“Jengkelka kurasa. Buru-buru tome ka ke kampus, karena ada sms nya. Seharian ka menunggu di kantor jurusan. Ujung-ujungnya tidak sempat ja lagi ketemu karena harus ki rapat Ibu.

Saat yang lain mungkin  lebih memilih pulang ke rumah, mereka malah memilih untuk menyibukkan diri di organisasi. Entah mendapat semangat dari mana. Bahkan, mungkin saja tak ada kata lelah dalam dirinya. Dengan begitu antusias mereka menjalani setumpuk aktivitas yang ada di organisasi, misalnya rapat, latihan, serta kerja-kerja kepanitian.  Bahkan, meski tak ada kuliah sama sekali tetap memilih untuk ke kampu dan menghabiskan waktu bersama di koridor dan himpunan.

Saat gelap mulai menyapa, aktivitas di koridor masih saja berlangsung. Asap rokok mulai mengepul, para penggiat minuman hitam nan pahit pun berkumpul. Mereka memilih menghabiskan malam dengan berbincang-bincang dan kadang diselingi dengan lantunan lagu mengikuti petikan gitar serta tabuhan jimbe. Menghabiskan waktu seharian di koridor adalah pilihan yang tepat untuk menghalangi rasa sunyi menyapa.

 

 

“Apa ko suka kan tinggal di himpunan? Bahkan, sampai menghabiskan waktu seharian di koridor. Padahal ada ji kosmu juga.” Tanya seorang teman pada saya.

Pertanyaan itu lahir, karena saya selalu saja berada di koridor dan himpunan. Bahkan kos yang saya miliki seolah hanya menjadi tempat untuk menyimpan baju dan tempat saya pulang saat ingin mandi. Saat itu, saya tidak bisa menjelaskan alasan kenapa saya memilih kehidupan seperti ini. Koridor, himpunan, kebersamaan yang tak pernah putus, keriuhan yang selalu saja menyapa, tawa dan canda yang tak pernah lepas dari wajah mereka-sang penghuni koridor- membuat saya begitu nyaman berada di sini.

Tempat inilah yang kemudian mengajarkan saya akan kebiasaan minum kopi. Tempat ini menjadi tempat kami bertukar pikiran akan banyak hal, misalnya tugas kuliah, kondisi pembangunan kampus, kebiajakan-kebijakan birokrasi, dll. Semakin larut, diskusi pun semakin dalam. Kegiatan kemahasiswaan yang lahir seperti pengaderan, diskusi rutin, kelas literasi, kelas budaya, workshop, dll itu lahir dari perbincangan malam di koridor. Bahkan sisi-sisi kemanusiaan yang ada dalam diri terasa dari ruang-ruang seperti ini.

Namun, sayangnya aturan baru yang diberlakukan oleh kampus membuat kami tak lagi bisa menghabiskan malam bersama. Sebab, aturan itu mengharuskan semua aktivkitas di kampus berhenti tepat di pukul 22.00. Menjadikan semua kegiatan saat malam hari hanya akan menjadi kenangan. Kumpulan kisah yang hanya akan menjadi dongeng bagi mereka yang masuk di kampus tahun depan dan seterusnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s