Kepergian; Mengenalkan dan Mengajarkan Hal Baru

Di sebuah desa dengan hamparan sawah yang luah. Sawah yang dipenuhi padi yang mulai menguning. Saat itu, kira-kira waktu telah menunjukkan pukul 17.00. Tetiba seorang anak berlari menghampiri kakaknya dan berteriak, “waah… kerennya itu matahari”. Sang kakak pun berkata, itu adalah senja dik. Menurutmu, apakah dia indah? Seketika sang adik termenung, dan memandangi matahari yang nampak kemerahan itu. Lalu ia bertanya pada sang kakak, “akankah ia pergi? Aku tidak ingin dia pergi”.


Seketika sang kakak tersentak akan perkataan yang diucapkan oleh adiknya itu. Ia begitu heran mendengar pernyataan yang baru saja dilontarkan adiknya. Sambil memandangi senja, percakapan antara dua bersaudara ini pun mengalir. “Mengapa kau begitu menyukainya sampi-sampai tak ingin jika ia pergi?.” “Emmmmm… aku suka karena saat pagi aku akan mendengarkan suara ayam yang membangunkan aku untuk ke sekolah. Saat siang, aku juga bebas untuk berlari, bermain sepuasnya. Dan saat matahari ada, semua tempat akan menjadi terang”. Sang kakak pun tersenyum mendengar jawaban sang adik. Ternyata ia begitu suka dengan matahari karena saat matahari bersinar ia dapat bermain sepuasnya.

Sekitar pukul 17.30, terdengar suara ibu memanggil kami pulang. Katanya, bergegaslah untuk pulang, sebentar lagi gelap. Saat itu aku berpikir, mungkin adik tidak suka malam karena ibu sering mengatakan gelap untuk menggantikan kata malam. Sedangkan ia begitu suka terang, karena mampu bermain tanpa rasa takut akan gelap. Sambil menggenggam tangan adik, aku pun mengajaknya pulang. Sepanjang jalan, adik hanya terdiam.
Saat malam tiba, setelah shalat magrib ibu pun memanggil kami untuk makan malam bersama. Kami pun berkumpul di meja makan dan menyantap makananan yang disediakn oleh ibu. Setelah itu kami lebih suka berkumpul di teras rumah sambil memandangi langit yang dihiasi dengan bintang dan bulan yag bersinar menerangi malam. Saat itu, ibu menanyakan tentang nilai di sekolah pada adik. Katanya, “tadi adik belajar apa? Ada kuis tidak? Adik dapat nilai berapa?. Begitulah antusias ibu menanyakan seputar pendidikan adik. Tidak lama setelah itu, adik pun berlari dan mengambil sebuah buku lalu membukanya. Saat itu, ia menyodorkannya padaku dan berkata, “kakak, tadi di sekolah adik dapat PR dari ibu guru”. Dengan penuh perhatian, aku dan ayah pun membimbing adik menyelesaikan PR dengan mata pelajaran matematika sambil menunggu ibu menyiapkan makanan kecil. Tidak berselang begitu lama, ibu pun datang dengan nampan di atas tangannya yang berisi sepiring pisang goreng dan satu teko teh hangat.


Setelah jam menunjukkan pukul 21.00, ayah pun menyuruh kami segera beristirahat. Ia berkata, “Segeralah tidur. Malam semakin larut. Kalian butuh istirahat, untuk mengembalikan tenaga yang kalian keluarkan hari ini. Kalian harus istirahat yang cukup untuk menghadapi hari esok yang membutuhkan energi lebih banyak dari hari ini”. Kami pun bergegas memasuki kamar dan bersiap untuk tidur dan bertemu sang raja mimpi. Berharap mimpi yang indah agar tidak membangunkan dengan perasaan yang tidak enak.
Tak terasa, mataharipun mulai menampakkan dirinya. Sinarnya pun mulai menyelinap masuk lewat jendela yang ada di kamar. Seperti mengintip apakah kami sudah terjaga atau belum. Tetiba, suara ibu pun mulai terdengar “Anak-anak, ayo bangun. Hari sudah pagi, ingat kalian harus ke sekolah hari ini. Bangun dan segeralah mandi. Nasi goreng kesukaan kalian sudah menanti di atas meja”. Seketika kamipun melompat bangun dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah menyantap nasi goreng andalan buatan ibu, kamipun berpamitan untuk ke sekolah. Diperjalanan aku kembali mengingatkan adik tentang pembicaraan kita sore kemarin. “Masih ingat tidak diskusi kita kemarin tentang senja dan malam? Sebenarnya, matahari pergi bukan karena tidak ingin membiarkanmu bermain terus. Namun, ini tentang bagaimana kamu bisa berbagi dengan yang lain. Sebab, dibelahan dunia sana ada banyak anak seumuranmu yang juga sedang menanti matahari agar mereka bisa bermain sepertimu. Jadi, kamu jangan sedih karena saat dia pergi, maka kamu akan mengenal teman yang baru.”

“Nah, teman baru itu adalah malam. Saat malam tiba memang kamu tidak akan bisa bebas bermain. Tapi, dengan adanya malam, kamu akan mengenal dan merasakan kumpul bersama dengan keluarga di rumah. Hal itu yang tidak akan kamu dapatkan di pagi hari. Selain itu, malam juga mengajarkanmu tentang istirahat dan memulihkan tenaga untuk bermain esok harinya”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s